PrambananTerlihat Berbeda Saat itu

Eksterior Candi Prambanan

Eksterior Candi Prambanan

Prambanan merupakan mahakarya yang lahir dari para seniman Nusantara. Kini, mahakarya itu telah menjadi bagian dari warisan dunia yang diakui UNESCO berasal dari Indonesia. Pusaka leluhur ini perlu dijaga dan dilestarikan, salah satunya dengan cara menghadirkan inovasi dalam penyebaran pengetahuan.

Pertunjukan video mapping pada sisi candi belum pernah dilakukan di Indonesia dan manca negara. Sembilan Matahari mewakili Indonesia untuk mengambil inisiatif menggelar pertunjukkan tersebut. Karakter material candi yang tidak berwarna putih pun menjadi tantangan mereka.

Video mapping adalah sebuah teknik proyeksi yang digunakan untuk mengubah suatu objek dengan bentuk yang kerap tidak umum menjadi sebuah permukaan untuk menampilkan proyeksi video. Penggarapan bersama lintas bidang keilmuan seperti desain grafis, animasi, efek visual, arsitektur, film, efek suara, dan musik, video mapping dapat menghadirkan sebuah illusi.

Pada Senin malam, 9 Oktober 2016, Sembilan Matahari bersama Epson menggelar pertunjukkan video mapping yang bertempat di kompleks Candi Prambanan dan Panggung Ramayana Ballet, Yogyakarta.

Nolly Dhanurendra, Head of Marketing Communication & Public Relation Epson Indonesia, mengatakan dalam sambutannya, “Pemilihan Candi Prambanan karena merupakan situs warisan dunia yang tercatat di UNESCO. Sebelumnya Epson sudah beberapa kali bekerja sama dengan Sembilan Matahari, seperti di Museum Nasional Jakarta, Gedung Merdeka Bandung, Kantor Bupati Pekalongan, Benteng Kuto Palembang, dan sekarang di Prambanan.”

Gempita pagelaran ini dibuka oleh penari sohor Didik Ninik Thowok dan seniman-seniman tari lainnya. Sebagai pertanda pembukaan acara, para penonton pun diikutsertakan. Secara bebarengan mereka menggoyangkan alat permaianan tradisional dari bambu yang dijuluki “othok-othok”, sehingga terdengar bunyi yang begitu meriah.

Didik membawakan lakon yang berkaitan tentang mitos Candi Prambanan, Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Pertunjukan yang memadukan teknologi visual dan pentas kolosal ini berlatar Prambanan. Atmosfer panggung dan para penari semakin hidup berkat efek tiga dimensi. Penonton semakin hanyut dalam ketakjuban.

Setelah menyaksikkan pagelaran terdapat beberapa pesan moral. Alkisah, dua bocah terlihat mencoret-coret candi. Saat itu juga si nenek memberikan nasihat bahwa seharusnya candi sebagai warisan leluhur harus dijaga bukan justru dirusak.

Cerita semakin mendebarkan ketika perang dimulai. Cahaya bak menari-menari, menghidupkan malam. Adegan-adegan yang selama ini hanya ada dalam benak setiap orang, pada malam itu gambaran cerita laksana sebuah kenyataan. Bahkan, gambaran tanah merekah pun dapat terlihat dari bangku penonton. Untuk kesekian kalinya penonton bertepuk tangan, bahkan bersorak-sorai. Kendati sempat hujan gerimis, pertunjukkan tetap memukau.

Akhir cerita, Roro Jonggrang dikutuk menjadi batu oleh Bandung Bondowoso. Di sela-sela pertunjukan terdapat video wawancara tentang riwayat candi Hindu terbesar di Indonesia. Prambanan diduga dibangun dengan hitungan fisika dan matematis yang presisi sehingga bisa membangun candi yang megah hanya dengan berbahan dasar batu alam.

Suksesnya pagelaran video mapping ini didukung dengan pengemasan cerita dan teknologi nan mumpuni, seperti 20 proyektor dari Epson. Proyektor-proyektor itu dipasang di panggung dan latar depan Candi Prambanan. Teknologi baru yang digunakan proyektor ini berkekuatan hingga 25.000 lumens. Semakin besar lumens, semakin terang cahayanya. Video diproyeksikan ke permukaan lantai panggung, latar panggung, dan permukaan candi. Cahaya pun menari dramatis.