Sejarah Lahirnya J-League Yang Bisa Dicontoh Oleh Sepakbola Indonesia

Cewek Bola - Sejarah Lahirnya J-League Yang Bisa Dicontoh Oleh Sepakbola Indonesia

Cewek Bola – Sejarah Lahirnya J-League Yang Bisa Dicontoh Oleh Sepakbola Indonesia

Berbicara soal sepakbola Indonesia memang agak menyedihkan, olahraga populer dan merakyak ini lebih banyak kontroversinya ketimbang prestasinya. Jangankan di level Asia, di level sesama Asia Tenggara saja kita tidak bisa bersaing. Hal ini bisa dilihat dari hasil pertandingan AFF yang diikuti oleh Indonesia, dimana Indonesia sama sekali belum pernah menjuarai gelar juara AFF. Kekuatan sepakbola kita justru kalah dari Thailand, Malaysia dan Vietnam. Entah apa yang salah dengan sistem yang diterapkan oleh PSSI demi mengembangkan persepakbolaan Indonesia. Padahal sistem kompetisi Indonesia sudah dinilai baik. Bila sepakbola kita ingin maju, janganlah melihat ke negara-negara Eropa yang memang sudah memiliki liga profesional sejak abad 18, melainkan tirulah apa yang diterapkan pada sistem sepakbola Jepang.

Salah satu sebab mengapa sepakbola kita harus belajar dari Jepang adalah sepakbola di Jepang terbilang sangat maju dalam waktu yang cukup singkat. Perlu dicatat J-League yang merupakan liga kompetisi yang ada di Jepang baru berumur 26 tahun dan resmi berdiri pada tahun 1992. Sebelum tahun 1992, Jepang hanya memiliki sistem kompetisi domestik yang hanya di huni oleh klub-klub amatir meski pertandingannya mengikuti sistem skala nasional. Klub-klub yang berdiri pun merupakan bentukan perusahaan. Dan pada tahun itulah J-League dibentuk oleh JFA untuk mengurusi sepakbola profesional.

Pada awal kompetisi J-League hanya diikuti oleh 10 saja dengan yaitu 8 tim dari JSL divisi 1, 1 tim dari JSL divisi 2 dan 1 tim baru. Musim perdana J-League dimulai pada tahun 1993 dan pada tahun tersebut animo masyarakat Jepang sangatlah besar, mengingat sepakbola di Jepang tidaklah sepopuler Baseball. Popularitas J-League sempat menurun pada tahun 1996, dimana jumlah penonto yang hadir untuk melihat pertandingan semakin sedikit. Pada tahun 1993 hingga 1995, jumlah penonton yang hadir bisa mencapai 19.000 orang. Tapi pada tahun 1996, jumlah penonton berkurang drastis menjadi 10.000 orang.

Menyadari adanya kesalahan yang dialami pada sistem kompetisinya, pihak J-League mengambil 2 langkah antara lain menghimbau kepada klub-klub untuk menggaet sponsor lokal dan membangun hubungan baik dengan kota agar hubungan klub dengan kota bisa erat. Dengan langkah-langkah yang diterapkan tersebut, diharapkan dapat menumbuhkan kembali rasa dukungan masyarakat, pihak sponsor dan pemerintah daerah kepada klub lokalnya. Kemudian langkah yang kedua adalah merubah sistem kompetisi yang awalnya 1 divisi menjadi 2 divisi dengan merekrut 9 klub-klub dari JFL (Japan Football League) yang merupakan  klub liga semi profesional. Dengan masuknya 9 klub tadi, maka J-league memulai fase kompetisi baru dengan jumlah klub yang bertanding sebanyak 16 klub.

Pada tahun 2009 hingga 2012, jatah pemain asing mulai dibatasi menjadi 3+1 dimana 3 slot pemain asing yang bebas berasal dari negara manapun dan 1 slot untuk pemain khusus yang berasal dari kawasan Asia atau negaranya tergabung dalam AFC selain Jepang. Dengan mekanisme pembatasan kuota pemain asing tersebut, diharapkan dapat mengembangkan potensi pemain-pemain lokal itu sendiri.

Semua yang dilakukan oleh J-League dalam mengembangkan prestasi sepakbolanya terbilang cukup berhasil, dimana Jepang sejak berdirinya sistem kompetisi lokal, Jepang selalu lolos piala dunia dan 3 kali menjadi juara Asia pada ajang AFC CUP. Seharusnya langkah-langkah yang dilakukan oleh J-league Jepang wajib kita tiru.