Tradisi Cuci Keris Saat Malam Satu Suro

Ritual Cuci Keris Malam Satu Suro

Ritual Cuci Keris Malam Satu Suro

Keris muncul beriringan dengan terciptanya bangunan-bangunan batu tertua. Candi, prasasti, arca, dan setiap bangunan apapun yang terbuat dari batu pasti dikerjakan dengan alat-alat logam, karena material logam bersifat lebih keras daripada batu.

Keris yang bagus adalah keris yang tersusun dari campuran berbagai jenis logam, seperti besi, baja, dan nikel. Campuran ini cukup sempurna: baja yang keras, tajam, getas dipadukan dengan olahan besi dan nikel yang lebih lunak. Oleh sebab itu ia tidak mudah patah atau bengkok.

Di kalangan masyarakat Jawa, keris kental sebagai sebuah simbol kejantanan. Keris juga dapat dikatakan lambang pusaka. Kalender masyarakat Jawa mengirabkan pusaka unggulan keraton pada tanggal satu sura.

Menurut tradisi kepercayaan Jawa kuno, keris alias tombak pusaka itu menjadi unggulan keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsur baja, besi, nikel, melainkan pula teknik pembuatannya yang sangat berbeda. Pembuatannya disertai dengan ritual pemanjatan doa kepada sang Maha Pencipta Alam oleh sang empu serta pandai besi. Maka keris pun dianggap senjata yang mengandung daya magis.

Keris merupakan warisan budaya asli Nusantara. Meski kebudayaan tersebut sudah mendapatkan pengaruh dari kebudayaan luar. India, Cina, dan Timur Tengah misalnya. Pengaruh ini umumnya dapat terlihat pada keragaman motif ornamen keris.

Bilah keris selalu condong sekitar hampir 30 derajat terhadap pegangannya. Bertujuan agar luka tikaman yang dihasilkan lebih besar. Semakain senjata tikam memiliki kemiringan tertentu, akan makin hebat jugalah kemampuan merusak yang dimilikinya.

Ritual yang dinamai Penjamasan ini juga punya ritual khusus lainnya seperti puasa, pati geni, menyiapkan sesaji lengkap dengan menyan, tumpeng, dan berbagai persiapan lainnya. Masyarakat Jawa percaya kalau ritual mencuci benda pusaka ketika malam 1 Suro akan mempertahankan kesaktian benda pusaka peninggalan leluhur.

Adanya berbagai kepercayaan tersebut, membuat malam 1 Suro makin diselimuti oleh nuansa mistis. Anggapan tersebut tak lepas dari sejarah zaman kerajaan tempo dulu. Kala itu, bulan Suro jadi satu waktu dimana keraton di Pulau Jawa mengadakan ritual memandikan pusaka. Masih begitu dihormati oleh masyarakat, karisma keraton itu sendiri yang membentuk stigma mistis akan bulan Suro.

Jika ada warga yang mengadakan perayaan khusus, seperti pernikahan, di bulan Suro. Maka perayaan itu akan berdampak pada sepinya ritual pencucian pusaka yang diselenggarakan oleh keraton. Dianggap mengurangi kewibawaan keraton, maka mulai beredar mitos-mitos seram tentang bulan Suro.

Tradisi ini juga jadi satu bentuk aksi untuk mememupuk kesetiaan warga pada keraton. Hingga kini, kepercayaan itu masih dipegang kuat oleh masyarakat Jawa. Di balik semua cerita yang terdengar, tak ada salahnya juga kalau ingin melestarikan tradisi, bukan? Setiap orang punya perspektif sendiri untuk menilai malam 1 Suro.